Ibu I
Aku melihat banyak harapan yang tersimpan dalam diri anak gadisku. Tapi tetap saja harapan itu dibayangi oleh kekuatiranku akan caranya bergaul.
Ibu II
Putri bungsuku sebelumnya sering curhat tentang apapun yang dia alami hingga ketika dia jatuh cinta dan dia dikecewakan. Sekarang dia tidak lagi mempunyai waktu untuk bercerita. Ketika aku menanyainya tak lagi ada jawaban menyenangkan darinya. Aku rasa dia terlalu kecewa. Dan ini membuatku sangat kuatir.
Ibu III
Dari beberapa anak laki-laki yang kumiliki itu sama sekali tak memberi beban bagiku. Kecuali beban di saat menemukan diriku harus menjaga seorang anak perempuanku dalam pergaulannya.
Ibu IV
Aku memilih mempunyai 10 anak laki-laki daripada membesarkan 1 orang anak perempuan.
Ibu V
Kadang-kadang anakku (perempuan) menyalahartikan perhatianku kepadanya dengan kata “tekanan”
Agak sukar memberitahukan betapa harapan ibunya terletak ditangannya.
Ibu VI
Seoarang anak perempuan yang berhasil menjaga dirinya hingga sampai ke jenjang pernikahan-dimana dia sudah menjadi tanggungjawab suaminya- adalah keberhasilan sesunggunnya bagi seorang ibu.
Ibu VII
Kemarin kudengar anak gadisku yang berumur 5 tahun berbicara seperti ini “kalau aku besar aku ingin menjadi seperti ibuku”
Kalimat itu semakin menguatkanku untuk menjaga anakku dengan baik dan menjadi seorang ibu yang bisa menjadi teladan baginya. Karena sejahat apapun aku, setidaknya itu tidak terlihat oleh anakku.
Ibu VIII
Anakkulah yang menjadikan kami menjadi keluarga yang utuh.
Ibu IX
Mereka boleh membenciku karena didikanku. Asalkan mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan tidak merusak diri mereka
Ibu X
Aku dan ayahnya mungkin belum bisa memberi contoh yang baik baginya tapi kami tak pernah berharap anak gadisku mengikuti cara hidup kami yang salah. Seringkali-mungkin dia tak sadari- aku dan mungkin juga ayahnya mencari tahu tentang dia ke teman-temannya. Dan aku dan mungkin juga ayahnya , bahagia mendapati permata hati kami baik-baik saja di luar sana.
Ibu XI
Kami membiarkannya memilih jalannya sendiri. Bukan berarti kami membiarkannya. Kami hanya sudah cukup yakin bahwa dia sudah bisa menjalani hidupnya.
Ibu XII
Tahun-tahun ketika anak gadisku berumur 0-23 tahun adalah tahun yang berat bagi aku. Tapi aku tersenyum bahagia melihatnya setelah itu. Karena sekarang dia pun bisa mengetahui dan mempraktekkan caraku mendidik kepada anaknya.
Ibu XIII
Aku hanya tertawa setiap kali anakku melekku dengan kata “kuno.”
Ibu XIV
Seandainya dengan membelikan semua keperluannya dan mencukupkan semua kebutuhannya dengan materi dia akan baik-baik saj maka aku akan melakukannya. Tapi aku tahu bukan itu yang diperlukan anakku. Dia butuh seorang ibu yang baik. Dan jika baik baginya dan baik bagiku adalah sesautu yang berberda itu adalah hal yang wajar, karena aku yakin nanti-suatu saat-dia akan mengerti.
Ibu XV
Bagi kami anak gadis adalah seperti batu pualam yang indah.
Jadi kami pun akan menjaganya dengan baik.
Ibu XVI
Aku sudah tahu rasanya menjadi seoarang anak perempuan. Dan karenanya aku tahu perlunya mendidik anak perempuan dengan baik pula.
Ibu XVII
Ibuku selaku mengingatkanku agar aku memberikan perhatian ekstra kepada anak perempuanku. Bahkan di usiaku yang sudah memiliki anak pun ibuku masih memperhatikanku. Jadi kenapa aku tidak bisa melakukannya untuk anakku pula.
Ibu XVIII
Aku tidak melarang anak perempuanku memiliki pacar di usianya yang baru belasan. Tapi aku memintanya untuk memperkenalkannya padaku sebelum dia memutuskan untuk pacaran dengannya. Itulah caraku memperhatikan anakku.
Ibu XIX
Aku membiarkan anakku mengerjakan apa yang dia ingin kerjakan asal dia mampu memberiku bukti dia bisa menjaga dirinya tetap dalam keadaan baik-baik saja. Dan tentu saja komunikasi diantara kami harus tetap berjalan dengan baik. Dia sering menceritikan kepada temannya kalau ibunya adalah ibu dan sekaligus teman yang sangat sempurna untuknya.
No comments:
Post a Comment