-->
DiaryQ sy9 aku tuh bin9un9 ban9et dey♠♠
Sebenarnya aku msh sy9 dia or sekedar m0 nunjukin ke dunia kl0 aku ju9a punya se20ran9,,
Klo aku 9ak sendiri,,
Kl0 aku bisa memiliki dia seutuhnya,, dan
Kl0 aku memiliki seseoran9 y9 men♥ aku!!!!!
Kl0 mo jujur sih aku tuh bin9un9 sendiri apa sih itu ♥??? Apa cinta itu kl0 aku diam2 menan9is di kmr krna dia? Atw waktu aku mati-matian berusaha untuk tidak sms dia lebih dulu kl0 l9 marahan? Atw ketika aku mengatakan iya padahal 9ak? Atw ketika aku merasa 9ak bisa ngapa2in depan dia?
Tp kenyataannya 9ak se9ampan9 itu, apa y9 kupikir cinta itu ternyata 9ak cukup membuatku yakin padanya.. aku jd in9at kata2 y9 9ak tau dengar atau bacanya dimana ” cinta harus didasari oleh keyakinan hati n keju2ran antar kedua pihak untuk memulai suatu hub yang baik..”
diaryQ sy9 itulah problemnya bgmna aku tahu klo dia juga jujur padaku, siapa tau dia hanya men9ucapkan kata2 y9 hanya 3 menit y9 lalu diucapkan ke perempuan lain????
Uffftthh bin9un9.,… la9ipula dia bukan milikku la9i…
…me280508@diariesy9…
Kututup diaryku dan kuraih hapeku yang tergeletak tak berdosa di tepi ranjang sebelah meja tempatku menulis diaryku barusan, kutatap layarnya tertera tulisan 3 messages received. Aku tertegun tak percaya, sejak kapan sms-sms itu nyelonong masuk ke hapeku? Waktu aku sibuk menulis diary? Aku masih tak percaya tapi sekarang walaupun hatiku masih gamang dengan pergumulan hatiku, mau tak mau mencelos tersenyum simpul. Bahkan ketika dosen paling ganas sekalipun yang sedang neko-neko aku tidak pernah kecolongan tidak mendengar bunyi hapeku_walo hanya pake alert_ tapi ternyata ketika sedang menulis perasaan, hape yang berada tidak cukup stengah meter dariku tidak dapat aku dengar, tanpa di silent lagi. Benar kata orang cinta emang luar biasa, dan aneh. Disela kesibukanku memikirkan hal itu, aku menekan tombol view hapeku, ketiga sms itu berasal dari pengirim yang berbeda, tapi tidak ada ada satupun pengirim sms yang paling aku rindukan dan inginkan selama sebulan terakhir. Uhh hatiku mencelos kecewa,tidak ada sedetikpunkah aku di hatinya sekarang? Atau dia sudah punya penggantiku? Ibi, sudahlah mungkin kamu harus melupakannya,bukankah semua ini salah kamu? Kuperingatkan diriku sendiri. Kulanjutkan memperhatikan sms-sms itu, mana tau ada yang emang perlu untuk di baca..
1st sms:
Bi, how’s ur day?
Tau gak cowk yg kmrn tuh bener2
hub ak loh.. gmna?
From : Best”Ila”pren
Aku mengerutkan kening berusaha mengingat cowok yang dimaksud Ila tapi sejauh yang aku ingat, ada 3 atau 4 cowok yang berusaha mengenal bahkan nekat meminta no hape Ila. Dan itu hanya untuk hari kemarin. Tidak heran memang untuk wajah sekece Ila. Ah sebodoh amat dengan masalah cowok itu, aku segera menekan tombol options, reply..
To : Best”Ila”pren
As usual, fine bgt..
Bagus dunkzz,, sy siy ok aja..
Bknx mslahx justru dr km,, km sndri gmna???
Send
Delivered to Best”Ila”pren
Itulah aku, walopun aku punya masalah terberat sekalipun aku selalu berusaha untuk tidak membuatnya merembet ke permasalahan lain apalagi ke hal-hal yang berhubungan dengan teman-temanku.
2nd sms:
Gi ngapzz???
Bsk jgn lupa bawa pesanan z yaJ
Hv nice day.
From : Best”Caya”pren
Reply
To : Best”Caya”pren
Yupzz ,,
U too
Send
Delivered to: Best”Caya”pren
Kedua sms itu paling tidak bisa mengusir kebosanan tapi tidak untuk sms yang ke 3, sms yang astaga benar-benar menambah frekuensi BeTe. Sangat menyebalkan.
3rd sms
Ini adalah layanan…
From : Iyan
Aku bahkan tidak perlu membacanya sampai habis, aku sudah terlalu menghapalnya. Iyan sangat suka melakukan hal ini, parahnya hapeku yang jadi sasaran. Aku sangat yakin, kalau saja penyedia layanan ini tidak membatasi penggunaannya maka bisa aku pastikan kerjaan Iyan adalah memakai layanan ini. Agak aneh memang untuk seorang cowok. Normal lagi. Dan yang perlu diketahui, dia anak paling tajir yang kuliah di jurusan Psikolog. Aku mengenalnya sewaktu pengisian formulir UMPTN, aku iri melihatnya dengan santai menghitamkan pilihan yang seharusnya aku hitamkan juga. Dulu aku sangat ingin masuk di jurusan Psikolog tapi karena ortu tidak mendukung jadilah aku mahasiswi di fakultas sastra. Sejak itu Iyan dan aku temanan.
›››››
“ Ibiii bangunnnnnn… ”
Suara Ila terdengar seperti bom di telingaku, dia sudah biasa masuk tanpa permisi ke kamar kosku. Aku bahkan sering berpikir dia mungkin membuat kunci duplikat pagar depan dan juga kunci kamarku, tapi setiap aku tanya dia hanya cengengesan dengan kata andalannya “ aku kan bisa segalanya”
“ Jam berapa sih sekarang La? ” Aku menguap sudah beberapa kali.
“ Gak penting jam berapalah, bangun sana mandi …oh no teman gak akan kubiarkan kau menyambung mimpi “
Ila sepertinya sudah membaca gelagatku dan tanpa permisi menarikku dari peraduanku.
“Kita mo kemana sih La, hari ini kan gak ada kuliah”
Aku masih memasang wajah sememelas dan semengantuk mungkin, berharap Ila berubah pikiran tapi sepertinya harapanku pupus setelah dia mengatakan bahwa dia mau diantar ke toko buku, aku tahu pasti toko buku adalah cita-cita utama Ila semenjak 2 minggu yang lalu. Dan aku yakin tidak ada lagi alasan untuk bisa menghindarinya setelah puluhan alasanku sebelumnya berhasil memudarkan keinginannya itu. Caya juga sudah pasti tidak bisa karena dia meliburkan dirinya sendiri dengan pergi ke Aussie bersama familinya. Padahal Ila bisa saja minta diantar salah satu dari fansnya cuma dia selalu bilang bahwa dia sama sekali tidak ada niat. Dan disinilah kami sekarang, di sebuah gramedia terbesar di Indonesia timur.
“ Bi, bagusan ini atau yang ini? “ Ila memperlihatkan 2 novel yang berbeda tapi keduanya bertemakan remaja, tapi berhubung aku tidak terlalu jago dalam hal novel-novelan atau apalah namanya jadi kupilih yang bersampul kombinasi coklat muda dan putih sesuai warna favoritku. Ila selalu percaya akan seleraku karena sejauh dia meminta pendapatku hasilnya selalu memuaskan jadi kupikir tidak ada salahnya terus memberinya pendapat, tidak seperti Ben yang selalu egois dan tidak pernah mau mendengar apa yang aku bilang. Ah kenapa aku harus mengingat dia lagi. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari bayangan Ben tapi semuanya malah semakin jelas. Tawanya, suaranya bahkan setiap kenangan yang pernah ada di antara kami.
“ Bi aku tuh sayang sama kamu, kalo gak kenapa juga aku datang malam-malam gini”
“ Dari sudut mana aku harus percaya Ben kalo yang kamu bilang benar? ” kataku santai tapi menusuk.
“ Percaya kata hati kamu Bi” kata Ben dengan nada putus asa
“ Sudahlah, gak ada yang perlu dipertahankan dalam hubungan kita Ben, kamu sudah memilih menghadirkan orang ke 3 atau sebenarnya akulah orang ke 3 dalam hubungan kalian aku gak peduli tapi yang perlu kamu tahu Ben aku gak suka dengan kedua hal itu.” Vonisku seakan-akan menikmati ketersudutan Ben.
“ Bi aku gak pernah mengiyakan kalo aku punya pacar lain, aku hanya mo bilang belajarlah untuk tidak terlalu percaya kata-kata orang lain dan belajarlah juga untuk percaya ke pacar kamu sendiri ”itu kata terakhir Ben sebelum dia pulang malam itu.
Aku boleh dengan perasaan sangat bangga mengatakan putus padanya, tapi tidak pada kadar ketenangan yang dia punya seperti pada saat dia mengatakan kata-kata terakhirnya itu. Aku ingin dia terus memohon, entah kenapa aku sangat menikmatinya jika dia berada dalam posisi seperti itu. Dan perasaan itu pula yang membuatku tetap bertahan dengan keputusanku walaupun Ben sudah memberi penjelasan. Aku terlalu gengsi untuk mengubahnya.
“ Bi, kayaknya ini juga bagus deh ” Ila memperlihatkan sebuah novel dan itu membuatku kembali ke alam nyata.
“ Iya, kayaknya bagus deh ”
Aku tahu Ila menatapku aneh tapi aku pura-pura tidak tahu.
›››››
Kuhempaskan badanku ke ranjang, kembali aku tidak bisa mengontrol pikiran untuk mengingat Ben. Pandanganku kosong melihat ke langit – langit kamar, aku merasa sepertinya setiap apa yang aku lihat menari – nari menertawakan aku, menertawakan kebodohan aku. Kalau saja aku punya sedikit keberanian untuk menghilangkan gengsi mungkin saat ini Ben masih ada menemani aku. Air mataku mulai menguak, kurasakan panas mulai menguasai mataku…
Biar, biar saja aku menangis. Aku sudah terlalu capek untuk menguatkan diri bahwa aku seorang yang kuat, bahwa aku tidak boleh menangis untuk masalah seperti itu. Terlalu cengeng. Tapi tidak untuk sekarang, aku sudah lelah. Sangat lelah. Kubiarkan air mataku terus menganak sungai, aku berharap setelah ini semua akan lebih baik, tapi mungkinkah? Aku tahu ini sudah terlalu lama menyakitiku tapi entah kenapa aku tidak bisa menghentikannya. Dia terlalu berharga dan terlalu kusayangi. Untuk kesekian kalinya aku berharap Ben muncul dengan senyum dan kata – kata riangnya di pintu kamarku seperti yang biasa dilakukannya.
›››››
“ Bi ngapain disitu? “ aku mendongak kudapati Ila dan Iyan tiba – tiba ada di depanku. Aku hanya mengangkat bahu sambil terus melihat bias – bias air danau.
“ Lagi ada masalah ya bi, gak biasanya kamu kesini gak ngajak – ngajak kita” tebak Iyan
“ Gak, aku hanya ingin melihat tempat favoritku .” Juga tempat favorit Ben, sambungku dalam hati. Aku heran kenapa Ila dan Iyan sudah puas dengan jawabanku itu tapi aku juga terlalu malas untu membahasnya, mereka ada disini juga berarti acara penyendirianku bakal kacau.
“ btw kalian berdua ngapain disini, bolos kuliah atau sengaja ngebuntutin aku?”
“ Iya…”
“ Gak.. “
Aku memandangi mereka dengan heran.
“ Maksudnya karena kamu gak ikut kuliah ya kami sepakat gak ikut, iya kan La? ”
“ Ee.. i..iya Bi, Iyan bahkan berhasil kabur dari pelajaran dosennya yang paling ganas”
Aku tahu apa yang mereka bilang tidak sepenuhnya benar tapi aku tidak berniat untuk bertanya lagi dan sepertinya itu membuat Iyan dan Ila menghela nafas lega.
›››››
Dear diary,,
Aku senennnnn9999 b9t akhirnya Ben sms aku tadi pagi,
walopun dia cuma nanya kabar aku tapi aku senen999999 senen9999 dan sangat senan9.
Aku bahkan belum berhenti untuk percaya bahwa dia benar – benar sms aku.
Walopun dia 9ak reply la9i waktu aku sms dia tapi palin9 9ak aku tahu dia masih in9at sama aku. Duhhh diary aku hapi b9t deh…
…me310508@diariesy9…
Aku menutup diaryku dan meraih hapeku, aku masih ingin membaca sms Ben. Walaupun sudah berkali – kali aku membacanya tapi setiap kali aku melakukannya sepertinya aku merasakan hal yang sangat menyenangkan. Hatiku seperti menari – nari. Dan entah kenapa aku selalu ingin membacanya. Aku masih membacanya saat lagu Until The End of Time punya Westlife mengalun indah dari hapeku dan aku tahu pasti itu nada sms khusus buat Ben. Aku melonjak kegirangan.
Ibi lagi buat apa?
Kangen nih ma kamu,,
From : myBen
Hal yang paling aku tahu dari Ben adalah dia cowok yang tidak suka neko- neko dan karena itu aku bisa memastikan bahwa smsnya benar 99,9%. Dan karena itu pula aku makin senang. Aku tidak mau Ben menunggu balasan smsku dengan gondok dan segera mungkin aku me-reply-nya.
To : myBen
gi di kmr aja..
trus napa?
Send
Delivered to
Sedetik,1 menit bahkan 5 menit Ben belum ada respons, aku mulai panik. Jangan – jangan belum terkirim dan walapun aku sudah tahu aku tetap mengecek Delivery Report dan Sent Item untuk membaca smsku kembali. Aku menyesal kenapa aku membalasnya dari itu. Aku tidak tahu kenapa tapi aku tidak bisa reply sms Ben lebih dari kata – kata itu. Aku seharusnya bilang “iya aku juga kangen” atau “jujur aku belum bisa lupakan kamu” tapi aku tidak bisa. Jujur saja aku terlalu takut ketahuan bahwa aku masih sayang dia dan juga masih mengharapan dia. Kesannya terlalu agresif menurutku. Lagu More Than Words mengalun dari hapeku dan aku tahu itu bukan sms dari Ben.
“Surprise…” Aku terkejut, tiba – tiba saja Iyan dan Ila nongol depan kamarku.
“Sialan, napa sih kalian tidak pernah muncul dengan sedikit sopan di mukaku?” kataku dengan nada malas.
“Kamu seharusnya bersyukur punya teman yang cantik dan tampan kayak kami berdua” kata Ila sambil mencomot brownies di atas meja, Iyan yang ikut – ikutan mengambilnya menambah sakit hatiku. Pasalnya itu adalah kue kesukaanku dan menegur mereka sama saja dengan mengatakan “habisi saja kuenya” karena hal itu sudah pernah kulakukan, hasilnya mereka malah melahapnya tanpa berhasil kucegah. Alasannya kalau kue itu masih ada maka aku bisa – bisa menjadi cewek paling kikir.
“Jadi apa yang kalian mau katakana?” kataku dengan nada seakan – akan mengatakan segeralah enyah dari kamarku sebelum browniesku habis. Dan anehnya maksud hatiku ternyata kesampaian karena tiba – tiba saja mereka seperti kehilangan selera makan. Aku kembali semangat. Aku tahu apa yang akan mereka katakan ada hubungannya dengan hilangnya selera makan mereka dan aku menatap mereka seolah hendak mengatakan “ hayo cepat bilang” dan tentu saja aku tertawa dalam hati. Setelah saling menyikut sampai sekitar 3 menit akhirnya Iyan mengalah dan mengatakan bahwa mereka sebenarnya sudah jadian. Aku tertawa terbahak – bahak sekitar 5 menit baru aku bisa memberi ucapan selamat ke mereka yang diikuti pandangan melongo mereka. Mereka pikir aku akan marah. Mereka juga bilang bahwa dulu mereka tidak niat bolos kuliah sewaktu mereka menemukan aku di danau itu tapi mereka mau merayakan hari jadian mereka. Jadi feelingku bahwa alasan mereka tidak sepenuhnya benar waktu itu adalah benar. Aku salut ke Iyan yang bisa mengalahkan ratusan fans Ila. Dan akhirnya mereka pulang seteleh mereka berjanji membelikan brownies yang banyak karena aku tidak marah ke mereka. Itu janji termanis yang pernah kuterima dari mereka walaupun aku tidak terlalu berharap mereka benar – benar menepati janji mengingat mereka juga adalah teman – temanku yang paling parah soal ingatan.
Entah apa yang terjadi, setelah mereka pulang aku merasakan sesuatu yang berbeda, aku seperti lebih nyaman terutama soal perasaanku ke Ben. Ada yang berubah. Iyan dan Ila seakan menyadarkan aku bahwa ada begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam hidup. Ila dan Iyan saja contohnyanya, dulu kami sobatan bahkan boleh dibilang Iyan sama sekali bukan tipe cowok tapi ternyata setelah sekian lama bingung cowok yang mana yang Ila akan jadikan pacar, akhirnya pilihannya jatuh ke Iyan. Aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa diantara mereka ada saling ketertarikan. Aku mulai sadar bahwa cinta takkan kemana - mana. Dia akan datang dengan sendirinya, karena itu aku memutuskan berhenti untuk terus berpikir bagaimana caranya agar Ben kembali padaku lagi.
“ Kalau dia memang untukmu maka dia pasti datang untukmu Bi” kata Caya yang hanya beberapa menit setelah Iyan dan Ila pulang datang ke kos – kosanku dengan membawa sekantong ole – ole hasil dari Aussie.Hidupmu bukan untuk diperbudak pikiran tentang Ben, masih banyak hal lain yang lebih penting Bi yang perlu kamu lakukan. Berhentilah memikirkan Ben.” Sambung Caya dengan sangat bernafsu. Aku tahu pasti dari dulu Caya tidak pernah terlalu menyukai hubunganku dengan Ben.
“ Aku sudah coba, tapi sulit Ya”
“ Bukan sulit Bi, tapi kamu gak pernah serius untuk melupakannya. Coba kamu pikir, apa saja usaha kamu untuk melupakannya. Namanya saja tetap tersave myBen di hape kamu, apa kamu pernah berpikir untuk mengganti nama itu? Gak kan? Apa itu namanya serius. Atau apa kamu pernah semalam saja gak menulis di diarymu tentang dia? Ayolah Bi lakukan dengan tegas setiap apa yang kamu lakukan.” Aku hanya diam mendengar khotbah Caya.
“ Atau gini deh Bi, aku mau tanya kamu masih sayang atau gak sama Ben”
Aku memandang Caya seakan tak percaya, setelah dia katakan apa saja hal – hal yang tidak bisa kulakukan terhadap Ben dia masih bertanya tentang hal itu. Aku benar – benar tidak percaya.
“ Oke.. oke kamu gak perlu jawab ” katanya sambil mengangkat kedua telapak tangannya kemudian dengan gaya seperti profesor dia menekan – nekan dahinya. Dan aku tahu dia sedang menyusun rencana yang biasanya segila otak mafia. Tapi sepertinya dugaanku meleset, dia ternyata hanya diam setelah sekian detik melakukan hal itu.
“ Gimana ada rencana yang jitu gak” akhirnya aku yang bertanya.
“ Gak ada deh kayaknya, kamu hanya harus berani mengambil keputusan Bi dan pilihan kamu cuma 2, lupakan atau balikan. Pilih Bi, pilih salah satunya! Jangan mengantung perasaan kamu sendiri ”
Sepanjang malam kata - kata Caya terus terngiang - ngiang. Dan aku tahu Caya benar. Aku harus berani mengambil keputusan dan setelah memikirkan berbagai hal dan fajar pun hampir menyingsing aku mengambil keputusan terberat dalam hidupku tapi keputusanku sudah bulat. Lupakan Ben!`
Langkah pertama : hindari menulis di diary tentang Ben.
Langkah kedua : ganti nama myBen.
Langkah ketiga : do not think about Ben.
Langkah keempat : museumkan semua barang – barang pemberian Ben.
Langkah kelima :mulai pikirkan tentang ajakan siapa yang akan diterima untuk malam mingguan ( walopun masih relatif)
Aku baru mau melaksanakan langkah pertama yaitu menyingkirkan diary tapi kemudian ada selebaran yang terjatuh dari dalamnya.
Kuraih dan aku tahu itu tulisan Caya.
Cinta bukanlah sesuatu yang memperbudak kamu,
Cinta memang butuh pengorbanan kamu tapi bukan memperbudak kamu, ada batas – batas pengorbanan yang perlu dan tidak perlu dilakukan.
Jangan sampai ketika Cinta menyapamu kamu memberikan pengorbanan yang sebenarnya perbudakan atas diri dan kehidupan kamu
Kalau Cinta menyakitimu, jangan menyalahkan Cinta itu, lepaskan saja Cinta itu dan hembuskan ke udara, semua akan lebih baik,
Jangan takut melepaskan Cinta karena Cinta yang lain dan lebih baik pasti masih ada untukmu,
Cinta sejati akan kamu dapatkan, yang tidak memperbudak kamu,
Cinta sejati yang menjaga kesucian kamu,
Dia akan menjagamu dalam segala hal.
Karena itu bangkitlah dan hadapilah Cinta.
Karena Cinta tidak akan kemana – mana,,
Dia ada di dekatmu,
Dia ada di hatimu,
Dan waktu ada menunjukkannya padamu.
Bi, semoga kamu dapat melakukan yan terbaik bagi diri kamu, bersiaplah ada hal terindah yang menunggumu dan itu jika kamu mengambil keputusan yang tepat,,,
_caya_
›››››
Until The End of Time – nya Westlife membangunkan Ibi, dengan stengah mengantuk dia meraih hapenya, 1 message received.
Pagi Bi,,
qta balikan ya
Aku benar2 tdk bisa lupa km
From : myBen
Dengan mata hampir di alam mimpi Ibi me – reply
To : myBen
Iya ak jg
Send
Delivered to myBen
Setelah 1 menit lagu yang sama mengalun lagi tapi Ibi terlanjur kembali ke alam mimpi. Sejam kemudian pintunya di ketuk, Ibi yang masih memakai piyama dengan rambut awut – awutan hampir pingsan melihat Ben ada di balik pintu itu. Dalam kebingungan samar – samar diingatnya kalau tadi Ben sms, secepat kilat dia menyambar hapenya. Dengan mata kelaparan di membuka ulang sms Ben. Dan juga Sent Itemnya. Masih ada 1 pesan yang belum dibuka dan itu menjelaskan mengapa Ben ada disitu sepagi itu.
Thank’s Bi,
ntar ak jemput Qta ke danau ya,
From : myBen
Ibi pasrah ternyata dia tidak akan bisa lepas dari Ben. Karena cinta memang tidak akan kemana – mana. Dan Ibi tidak sanggup menolak Ben sama sekali. Karena cinta memang aneh. Dan Ibi akhirnya pergi ke danau bersama Ben lagi. Karena cinta memang ada di antara mereka. Ibi tahu dia akan bahagia bersama Ben karena pada saat dia dalam keadaan stengah sadar dia mampu mengiyakan ajakan Ben untuk balikan. Bahkan setelah semalam entah bagaiman dia tertidur sebelum dia mengganti nama my Ben di hapenya. Bahkan kalau Ibi ingat – ingat ternyata belum ada yang dia lakukan. Dan Ibi yakin itu bukan suatu kebetulan. More Than Words mengalun dari hape Ibi. 1 messages received. Ibi tertegun membaca koran yang masuk ke hapenya.
Gimana bi, apa hal teridah itu
sudah terjadi?
Selamet yaa,,
Sbnrx itu hasil rencana
aku semlm,aku ke rmhx Ben slx
aku sdh ga tahan
Melihat kisah cinta kalian yg
setragiss itu,cieee apa coba,,
Maap atas kelancangan sobatmu
ini krna b’tindak sendiri
tapi aku tahu km pasti ga ijinkankan
klo aku tax km dlu..
tyuzz maap sex lagi,
sbnrx selama ini aku tuh sering jadi
t4 sampahnya Ben km,
jadi aku sdh lama tau klo Ben
sbnrx jg msh syg ma km cuma
kami sengaja merahasiakan,
kt Ben ini untuk menguji cinta km,
beneran atw cuma cinta sesaat,,
wuii sok dewasa kan dia???
Awalx Ben blum se7 saat aku
suruh dia untuk nembak km lg
tapi setelah aku bilang bahwa aku
abis khotbahin km & kemungkinan bahwa
keputusan km untuk memilih melupakan
dia lebih besar mk tanpa tanggung2 dia
langsung sms km padahal aku sdh blg pagix
aja km ksna dia, dia cinta berat kan sama km J
ya udah deh, tangan aku dah capek ngetik
sex lagi selamat ya Bi trus jaga hub kalian
baik – baik,, bubbyee
From : best”caya”pren
Aku mendogak dan kudapati Ben menutupi mukanya dengan boneka bear imut yang depannya terpampang tulisan “ maap ya” yang mengurungkan niatku untuk marah.
**The End**
No comments:
Post a Comment