Selvi masuk kamar dengan perasaan campur aduk. Alam, teman satu kampusnya dulu kembali berkelebat di benaknya. Sudah 5 tahun berlalu dan lelaki itu masih senantiasa mengutak-atik perasaannya. Lelaki yang selalu ada di hatinya namun tak pernah dia miliki. Perasaan yang senantiasa dia simpan jauh di lubuk hatinya oleh karena prinsip hidupnya untuk ‘tidak menyet ” lebih dahulu. Bertahun-tahun telah lewat, banyak lelaki lain yang dia biarkan masuk ke hatinya setelah merasa lelah menunggu Alam untuk “menembaknya.” Namun semua lelaki itu tak pernah sanggup meraih dan menggantikan tempat Alam. Hingga malam ini, sebuah kata pisah kembali dia ucapkan ke Fadlan, lelaki yang sudah 1 tahun lebih mengisi hari-harinya.
“Apa kabar kamu Lam?” gumam Selvi sembari memandangi display picture kontak BBM Alam. Sampai kapan aku menantikan cintamu Lam? 3 tahun kita di kampus yang sama dan aku selalu memimpikan kata cinta keluar dari bibirmu. Kini 5 tahun setelah kita berpisah perasaan itu masih sama Lam, sayangnya kamu tak pernah tahu. Kamu bahkan tak pernah BBM atau SMS sekedar mengatakan “hai.” Sikapmu yang seakan memberikanku harapan ketika kuliah adalah satu-satunya alasan mengapa aku tetap berharap suatu saat akan ada pernyataan cinta darimu. Selvi terus menatap display picture itu hingga tanpa sadar air matanya menitik membasahi layar Samsung Galaxy Duos miliknya.
“Apa kabar kamu Lam?” gumam Selvi sembari memandangi display picture kontak BBM Alam. Sampai kapan aku menantikan cintamu Lam? 3 tahun kita di kampus yang sama dan aku selalu memimpikan kata cinta keluar dari bibirmu. Kini 5 tahun setelah kita berpisah perasaan itu masih sama Lam, sayangnya kamu tak pernah tahu. Kamu bahkan tak pernah BBM atau SMS sekedar mengatakan “hai.” Sikapmu yang seakan memberikanku harapan ketika kuliah adalah satu-satunya alasan mengapa aku tetap berharap suatu saat akan ada pernyataan cinta darimu. Selvi terus menatap display picture itu hingga tanpa sadar air matanya menitik membasahi layar Samsung Galaxy Duos miliknya.
***
Barisan pepohonan sepanjang jalan memacu semangat Selvi mengayuh sepeda miliknya. Sudah hampir 3 jam dia memutari kompleks yang memang khusus diperuntukkan bagi para pengendara sepeda. Bertekad untuk tidak lagi membiarkan sosok Alam menguasai pikirannya, semenjak pagi dia membuat dirinya sibuk. Bila biasanya ada Fadlan menemaninya sekarang dia menikmati perjalanannya sendirian. Tidak ada kesedihan berpisah dari Fadlan , yang mengkhawatirkannya adalah perasaannya terhadap Alam.
“Hai, sendirian ajah ya?” tanya sebuah suara. Selvi menoleh ke arah suara tersebut.
“Aku mas?” Selvi balik bertanya dan sembari menunjuk ke dirinya. Selvi agak ragu karena di sekelilingnya banyak orang lain. Lagipula dalam pikirannya, tidak akan ada di antara sekian orang di kompleks itu yang akan memilih menegur dirinya. Memangnya aku ini siapa? Aku hanya gadis biasa, tidak cantik, tidak supel dan pasti tidak enak untuk diajak kenalan di saat seperti ini.
“Iya mba, sendirian ajah? Ulangnya sambil menunjuk tempat duduk sebelahku yang langsung kupahami dan kupersilahkan duduk. Aku langsung dipenuhi kekhawatiran dengan bau keringatku yang sepertinya dipahami oleh lelaki itu.
“Santai ajah mba, aku juga sama, nihh.” Katanya sambil mengangkat kedua tangannya sehingga memperlihatkan bagian depan baju sigletnya yang basah oleh keringat. Pernyataannya membuatku mengutuk diri sendiri. ini olaraga Sel, wajar kalau keringatan, umpatku dalam hati tapi berwujud senyum di ujung bibirku.
“Oh iya, aku Alam.” Dia mengulurkan tangan yang kusambut dengan mulut kebingungan bercampur kaget. “Hey kok diam saja, nama kamu siapa?” katanya sambil memandangi tangannya yang masih kupegang erat. “Eh eh iya maaf, aku Selvi,” Aku salah tingkah dan segera melepas tangannya. Aku berusaha menguasai diri dan mencoba untuk terlihat biasa dengan percakapan kami selanjutnya. Jalan-jalan pagiku hari ini aku akhiri dengan tukaran pin BB dengan Alam. Namanya Alam Ferdiansyah. Dia berjanji akan keep in contact denganku yang kusambut dengan senyum sumringah.
“Hai, sendirian ajah ya?” tanya sebuah suara. Selvi menoleh ke arah suara tersebut.
“Aku mas?” Selvi balik bertanya dan sembari menunjuk ke dirinya. Selvi agak ragu karena di sekelilingnya banyak orang lain. Lagipula dalam pikirannya, tidak akan ada di antara sekian orang di kompleks itu yang akan memilih menegur dirinya. Memangnya aku ini siapa? Aku hanya gadis biasa, tidak cantik, tidak supel dan pasti tidak enak untuk diajak kenalan di saat seperti ini.
“Iya mba, sendirian ajah? Ulangnya sambil menunjuk tempat duduk sebelahku yang langsung kupahami dan kupersilahkan duduk. Aku langsung dipenuhi kekhawatiran dengan bau keringatku yang sepertinya dipahami oleh lelaki itu.
“Santai ajah mba, aku juga sama, nihh.” Katanya sambil mengangkat kedua tangannya sehingga memperlihatkan bagian depan baju sigletnya yang basah oleh keringat. Pernyataannya membuatku mengutuk diri sendiri. ini olaraga Sel, wajar kalau keringatan, umpatku dalam hati tapi berwujud senyum di ujung bibirku.
“Oh iya, aku Alam.” Dia mengulurkan tangan yang kusambut dengan mulut kebingungan bercampur kaget. “Hey kok diam saja, nama kamu siapa?” katanya sambil memandangi tangannya yang masih kupegang erat. “Eh eh iya maaf, aku Selvi,” Aku salah tingkah dan segera melepas tangannya. Aku berusaha menguasai diri dan mencoba untuk terlihat biasa dengan percakapan kami selanjutnya. Jalan-jalan pagiku hari ini aku akhiri dengan tukaran pin BB dengan Alam. Namanya Alam Ferdiansyah. Dia berjanji akan keep in contact denganku yang kusambut dengan senyum sumringah.
***
S
elvi melangkahkan kaki dengan buru-buru masuk ke kantor. Finger Print menantinya, dia mengamati jam digital di layar Finger Print itu sebelum menempelkan salah satu jarinya. Pukul 08:28 am, masih belum terlambat, gumamnya senang. Terlambat tidur semalam membuatnya lambat bangun yang membuatnya serba buru-buru pagi ini. Setelah menyapa rekan-rekan kerjanya dia bergegas menyalakan komputernya, jelas sekali pagi ini wajahnya berseri-seri sama dengan beberapa hari terakhir. Wajahnya lebih riang daari biasanya. Beberapa rekannya juga telah menanyakan hal tersebut tapi Selvi berusaha mengelak, berdalih dengan alasan bahwa dia dapat customer bagus. Tentu saja itu bukan alasan yang sebenarnya.
Selvi kembali mengingat percakapannya dengan Alam Ferdiansyah semalam, Selvi merasa cocok dengan semua yang diperbincangkan dengannya. Dan sebersit harapan untuk memilikinya pun muncul. Bila tidak bisa memiliki Alam, maka Alam Ferdiansyah mungkin bisa menggantikannya. Lagipula mereka memiliki banyak kesamaan, kesamaan yang sangat kupuja dari Alam. Dan yang paling penting adalah keduanya adalah lelaki yang dekat dengan Tuhan. Lagipula harapan Selvi untuk memilikinya disambut oleh Alam Ferdiansyah. Alam Ferdiansyah mengiyakan saat Selvi memintanya untuk menemaninya ke berbagai tempat semenjak mereka berkenalan. Ke toko buku, toko sepatu, nonton bahkan ke gereja bareng.
Kring… kringgg…
Dering telpon di meja, menyadarkan Selvi dari lamunannya. Dia meraih gagang telpon tersebut.
“Halo.” “Halo Mba Selvi, ada tamu mencari mba, atas nama Bapak Alam Ferdiansyah,” suara itu kukenal, dari resepsionis. Tapi yang membuatku kaget adalah tamunya. Alam Ferdiansyah? Ada apa dia datang pagi-pagi ke kantorku, aku bertanya-tanya sambil menuju ruang tunggu. Dan benar ada Alam Ferdiansyah disana bersama seorang gadis cantik sementara bercakap-cakap. Terlihat akrab. Selvi berusaha membuang pikiran buruknya dengan berharap, gadis itu adalah tamu atau customer kantor.
“Nahh itu dia, Selvi kesini.” Alam Ferdiansyah melambaikan tangannya. Selvi mendekati dengan was-was tapi berusaha tidak memperlihatkannya.
“Dian, ini dia teman baruku selama kamu di Aussie, namanya Selvi,” sambung Alam Ferdiansyah. Dia yang menemani aku selama ini, pasti kalian cocok. Oh iya, Selvi ini Dian, tunanganku. Dia baru kembali dari Aussie menjenguk pamannya yang sedang sakit. Dia juga senang membaca buku dan hobby menulis novel. Kalian pasti bisa saling bertukar pikiran.
Selvi menyambut uluran tangan Dian dengan berusaha semaksimal mungkin agar terlihat senang dengan perkenalan itu. Sebuah perkenalan yang kembali memupus harapannya dengan nama Alam.
Kring… kringgg…
Dering telpon di meja, menyadarkan Selvi dari lamunannya. Dia meraih gagang telpon tersebut.
“Halo.” “Halo Mba Selvi, ada tamu mencari mba, atas nama Bapak Alam Ferdiansyah,” suara itu kukenal, dari resepsionis. Tapi yang membuatku kaget adalah tamunya. Alam Ferdiansyah? Ada apa dia datang pagi-pagi ke kantorku, aku bertanya-tanya sambil menuju ruang tunggu. Dan benar ada Alam Ferdiansyah disana bersama seorang gadis cantik sementara bercakap-cakap. Terlihat akrab. Selvi berusaha membuang pikiran buruknya dengan berharap, gadis itu adalah tamu atau customer kantor.
“Nahh itu dia, Selvi kesini.” Alam Ferdiansyah melambaikan tangannya. Selvi mendekati dengan was-was tapi berusaha tidak memperlihatkannya.
“Dian, ini dia teman baruku selama kamu di Aussie, namanya Selvi,” sambung Alam Ferdiansyah. Dia yang menemani aku selama ini, pasti kalian cocok. Oh iya, Selvi ini Dian, tunanganku. Dia baru kembali dari Aussie menjenguk pamannya yang sedang sakit. Dia juga senang membaca buku dan hobby menulis novel. Kalian pasti bisa saling bertukar pikiran.
Selvi menyambut uluran tangan Dian dengan berusaha semaksimal mungkin agar terlihat senang dengan perkenalan itu. Sebuah perkenalan yang kembali memupus harapannya dengan nama Alam.
***
No comments:
Post a Comment